Laman

Kamis, 08 November 2012

Gaun untuk ibu


Pagi itu aku memandangi saja sebuah katalog baju yang teman ku tawarkan ke padaku. Sebuah catalog baju-baju muslimah yang sangat indah. Aku membayangkan jika ibuku memakai gaun muslimah yang indah dengan senyuman secerah mentari pagi ini. Lalu ku yakinkan bahwa aku bisa membeli gaun muslimah untuk ibuku merayakan lebaran.

Sekarang aku berkemas diri untuk menyiapkan dagangan krupuk ku untuk di sebar ke warung-warung nasi kenalan ku.
“ aku pasti dapat membeli gaun muslimah itu” yakin ku di dalam batin.
Karena tinggal sedikit lagi aku bisa mengumpulkan uang untuk pulang kerumah dan membelikan ibu baju hari raya.
Karena sudah dua tahun ini ibu ku belum pernah mempunyai baju baru sehelai pun. Jadi aku ingin sekali melihat senyum merona di wajahnya.
Aku menggoes sepeda kumbangku dengan semangat untuk menjual kerupuk dan berharap Allah memberikan barokahnya pada hari ini…
Alhamdulillah habislah sudah kerupuku,Allah benar memberikan barokahnya kepadaku hari ini.
Aku berniat langsung membeli tiket kereta buat besok pulang kampung 1 hari sebelum labaran.

Sesampainya di stasiun aku pun langsung keloket untuk membeli karcis dan ternyata tertulis bahwa karcis telah habis dikaca loket.aku pun terduduk lemas di depan loket,
Bagai mana aku bisa pulang kalau begini..?” ku bertanya pada didiriku sendiri..
Tidak jauh dari tempatku terduduk ada seorang ana kecil yang menangis..
Lalu ku Tanya”  kenapa adik menangis? “
Anak itu tak menjawab dan terus menangis
“kau terpisah dengan kedua orang tua mu ya?”
Anak itu mengangguk.
“ yuk ikut om, nanti om carikan orang tua mu ya?”senyum ku mencoba menghibur
Aku langsung pergi ke pusat informasi dan mengumumkan jika ada yang kehilangan anak dengan usia 5 tahun bercirikan rambut keriting berbaju merah.
Telah 3 jam aku menunggu kehadiran orang tua anak ini, hingga akupun berbuka puasa dan sholat di mushola stasiun,tak kunjung datang juga orang tua anak ini. Anak ini pun telah tertidur di pangkuanku karena letih menangis, anak yang manis yang punya lesung pipit di pipinya.

Intan….intannn… teriak seorang ibu dan bapak menghapiriku, langsung sang ibu menciumi anaknya yang sedang tidur, rasa haru pun kurasakan pada saat itu.

Sang ibu membopong anaknya yang masih tertidur..dengan muka lembab karena menangis tak henti-henti.
Lalu kedua orang tuanya menceritakan kenapa anaknya tertinggal di stasiun kereta. Mereka adalah pemudik yang sama seperti ku kehabisan tiket, suatu ketika anaknya yang paling besar berumur 10 tahun keluar stasiun ingin membeli makanan dan tak sengaja terserempet taksi hingga anak tersebut jatuh.
Dari dalam setasiun sang ibu dan ayah ini panik melihat anaknya terserempet kereta hingga mereka pun membawa ananknya yang paling besar buru-buru kerumah sakit dan tanpa sadar meninggalkan anak yang terkecilnya yang sedang duduk di pojok tembok dekat loket kereta.

Ayah anak ini, pa subhan namanya. Mengajakku pulang kampung bareng, karena dia juga tidak dapat tiket, jadi dia pun pulang kampung dengan naik mobil pribadi. Tujuan kampungnya sama dengan ku yaitu madiun. Dia akan berangkat besok sore, dan aku mengiyakan untuk ikut dengannya.

Pagi 1 hari sebelum hari raya, aku berniat untuk membeli gaun muslimah di toko teman dekat ku, sesudah itu langsung kerumah pa subhan, karena sore ini kita akan berangkat ke madiun.
 Aku bawa tas ransel mudikku dan langsung mengayuhkan sepeda secepatnya, saking  tak sabarnya aku membeli gaun untuk ibu ku.

Sesampainya di lampu merah dekat toko, aku melihat ada kerumunan orang dipinggir jalan, lalu kuhampiri mereka. Setelah kulihat ternyata ada yang sedang tergeletak penuh darah, seorang ibu paruh baya dan membawa sayur. Dengan reflek aku pun mendekat dan meminta bantuan orang yang berada di sekitar, tapi mereka enggan menolong ibu tersebut tersebut, katanya mereka takut nanti disalahkan polisi.
Tanpa pikir panjang ku ikat sepedaku dengan rantai  sepeda di pinggir jalan.. lalu kupanggilkan taksi dan ku bawa ibu itu ke rumah sakit.
Sepertinya ibu ini adalah korban dari sebuah  tabrak lari, saat dia telah pulang dari pasar.

Di perjalanan ibu itu meringis kesakitan, dan memangil nama anaknya. Terus, dan dia ingin lekas pulang karena takut anaknya khawatir kepadanya.
Aku hanya  bisa berkata” sabar ya bu, sebentar lagi kita sampai kerumah sakit”. sampai akhirnya ibu itu pingsan.. ada satuhal yang ku salut dengan ibu ini, disaat iya sekarat iya masih sealalu mengkhawatirkan anaknya.
Aku pun mencoba mencari identitas ibu ini dengan mencari dompet di kantung celananya. Dan aku pun langsung menemukan dompet dan ponselnya.. segera aku menghubungi salah satu nomor yang ada di sana. Dan member tahu keadaan si ibu yang telah ku ketahui bernama sumiarti

Sesampainya dirumah sakit pun sang ibu langsung ditangani oleh perawat yang berada di UGD.dan aku pun mengurusi biaya dan administrasi ibu tersebut dengan segera, aku tak peduli akan untuk apa uangku sebelumnya. Bagi ku nyawa ibu ini lebih penting.

Setelah di periksa dokter, Alhamdulillah ibu ini tidak mengalami luka serius, hanya memar di bagian dahi dan luka di tangan dan kaki.
 Aku pun menunggui si ibu sampai iya sadar,..
Mata ku mulai mengantuk dan aku pun tertidur disampingnya.

Pagi itu sang ibu sudah bangun, dia pun tersenyum pada ku, dan ku lihat di sebelah kanan dan kirinya telah berada dua orang perempuan remaja dan laki-laki paruh baya,
Yah merekalah keluarganya.

“ sepertiny a kau lelah sekali nak? Sampai saat suami dan anak-anak ku datang engkau tak bergeming sedikit pun, trima kasih banyak ya nak telah merawatku semalaman ini.”

“Iy makasih yam as sudah menolong ibuku”
“ iya nak bagaimana kami bisa membalas kebaikan mu?”

Aku pun masih sedikit bengong saat di beriakan pertanyaan itu, dan aku pun langsung berdiri diri.
“ tidak usah pa.. aku hanya menjalankan apa yang aku yakini,sesame manusia kan harus tolong menolong,ya… jd sudah sepantas nya aku menolong ibu sumi.”

‘Alhamdulillah kalau bu sumi sudah lebih sehat, kalau begitu aku pamit pulang dulu ya bu… pa..”
‘Iy nak terima kasih banyak” ibu sumi tersenyum
Aku  lansung berjalan menuju lorong luar kamar rumah sakit,sholat subuh, istirahat sebentar di mushola rumah sakit dan bergegas untuk pulang
 Walau hati ini rasanya lemas sekali, karena aku hari kemarin tidak berangkat dengan pak subhan untuk pulang kampung, aku pun tak jadi membeli gaun ibu, karena sudah tak ada lagi uang yang tersisa di kantong ku. Habis untuk membayar biaya administrasi dan obat ibu sumi.
“Gdebuuukkkk!!!!!”
Aku pun terjatuh seperti menabrak sekarung beras yang di hantamkan ke mukaku.
Maaff kan aku, tadu aku melamun…aku menngelus – dahi, sambil mencoba untuk menegakan badan.
 Nak bimo y?

 Ku mendongak kan kearah suara datang
 Eehh. , pa subhan? Bapak belum pulang kampung?”

Irfan  anak ku yang keserempet mobil harus  cek up dulu hari ini kerumah sakit, jadi mudiknya di tunda nanti sore, lagi pula nak bimo knapa tidak datang kemarin sore, terus sedang apa nak bimo disini? Apa ada keluarga yang sakit?”
“ Tidak pa saya hanya mengantar seorang ibu yang menjadi korban tabrak lari”
“ wah nak bimo mempunyai hati yang mulia ya, kemarin menolong anak saya, terus seorang ibu.”
“ tidak  juga kok pa, aku hanya menjalankan tugas saya sebagai sesama manusia, gimana mau langsung ikut kerumah saya sekalian?”

 “Boleh pa,…”
 “Tapi sebelumnya bisa antarkan saya ke jalan merdeka dulu pa?”
“Soalnya sepeda aku ditinggal disana kemarin”


Sungguh aku tak sanggup membendung gejolak keceriaan karena sebentarlagi aku bertemu dengan ibu walaupun disisi lain aku sedih karena ku tak bisa membelikan ibu gaun yang indah untuk dipakainya di hari yang fitri.

Seemlier anging menerpa wajah ku dengan dingin, diatas kuda bermesin yang berjalan dengan cepatnya, ku tatap langit sore yang merona merah namun sendu,tak terasa air hangat meleleh dari kelopak mata ku, …

Ya gaun itu lah sebabnya, aku ingin sekali melihat ibu memakai gaun itu,,,, tapi aku langsung menepis dengan cepat,khawatir aku jadi tidak bisa mengikhlaskan uang yang terpakai untuk menolong ibu paruh baya yang kemarin.

Pepohonan yang meliuk-liuk di udara. Mentari merambat turun pelan-pelan, membenamkan dirinya ke pekatnya malam. Menyapa alang-alang yang membisu di tepi jalan menghantarkan ku ke kota yang telah lama ku cintai.


Subuh yang sunyi hanya terdengar suara dendangan takbir Adzan di sekitarnya. Merasuk ketulang hingga ke kalbu.

“Pa subhan aku turun sini saja,” pinta ku
“Oh , apa tidak saya antar sampai depan rumah  saja?”
“Tak  usah pak, sudah dekat ko, lagi pula mobil tidak dapat masuk kejalan depan rumah ku, nanti malahmerepotkan pa subhan.”
“Oh baiklah kalau begitu, kupinggirkan mobil ku di depan ya”
Mobil pun merapat di pematang jalan, aku pun turun .
“ terima kasih banyak ya pak, sudah mengantarku sampai dekat rumah”
“ sama-sama nak, sampean juga kan telah menolong saya menjaga anak saya yang hilang di stasiun tempo hari. Oh iy, salam ya buat orang tua di rumah.”
 “ iya pak , nanti akan saya sampaikan”
“Assalamu’alaikum”
“wa ‘alaikumusalam”
Mobil pak subhan pun berlalu hingga hanya terlihat sebuah titik sinar
Aku pun berlalu, meneruskan perjalanan, sebelum kerumah, ku sempatkan untuk mampir ke langgar untuk sholat subuh. Langgar yang dulu sering ku pakai untuk iqtikaf.

 Aku kangen dengan suara merdu imam di langgar ini, walau pun dirinya kini telah sepuh namun lantunan ayat-ayat cintaNya, yang ia lantunkan masih tetap merasuk kedalam hati ku hingga mengalir dalam darah ku, menggetarkan hati dan melelehkan air mata ku.

Matahari mulai menampakan batang hidungnya, menyapa ku hangat dengan sinarnya, sejuknya pagi itu telah memperbaharui sel-sel tubuh ku yang telah mati. Langkah kaki ku mulai terasa di percepat.
 Kulihat dari kejauhan terlihat seorang yang wajahnya selalu ku rindui, wajah yang kerap kali hadir dalam tiap mimpi ku, wajah yang selalu ku hadirkan di setiap doa ku. Wajah itu sekarang ada di depan mata ku, seakan wajah itu tahu bahwa aku telah datang, dan dia menungguku di depan pintu.

Ku tak kuat menahan rinduku, aku berlari untuk segera berada disisinya, lalu ku langsung berlutut untuk mencium kakinya.
Kaki yang selalu mengajak ku kepasar saat ku masih dalam kandungan hingga ku dalam gendongan, iya dia berjualan sambil merawatku disana.
Kaki yang mengenalkan ku kepada rumah Allah,
Lalu kucium Tangannya dengan mengharu biru, tangan yang slalu membelai ku dengan kasih sayang, tangan yang selalu mengajarkan ku arti berbagi pada sesama,tangan yang selalu menyabutku untuk memeluku dengan hangat.
 kupandang wajahnya kembali dengan lekat, seakan aku tak ingin memalingkan pandangan ku lagi.bibirnya selalu tersenyum,dank au akan mendengar nada-nada indah setiap kali ia menyebut kuasa illahi.
Kulihat matanya yang tegas namun sangat bersahaja dan penuh kasih sayang, mata yang selalu menangis di malam hari di saat ku telah terjaga, mata yang selalu menemaniku dengan kasih sayangnya saat ku sihat dan sakit.
Ibu … ibuu… ibu…. Hanya itu yang bisa ku katakana dalam haru ku.
 Entah kenapa kata-kata seperti hilang dalam ingatan ku .

“ engkau terlihat sehat nak…”
Suaranya menghapus lara dalam hati ku
“ yuk masuk, ibu akan buatkan teh hangat di campur jahe kesukaan mu.”
“ maaf ibu, aku sebenarnya ingin sekali memberikan mu gaun yang indah… tapi..tapi… “ isak ku membuat kata-kata tertahan di lidah ku.
“ siapa bilang kau tidak memberikan ibu gaun yang indah?”
“ kau telah memberikan dua gaun yang indah untuk ibu kok..”
“ aku tidak mengerti maksud ibu?’
 “ ya,kau telah memberikan ibu gaun berlapiskan kerendahan hati mu, dengan selalu menolong sesama. Ada surat yang memberitahu ibu bahwa kau telah menolong seseorang yang terkena musibah dan yang kedua dia menghadiahkan gaun yang sangat indah untuk ibu karena dirimu telah menolongnya”
Aku masih termangu dalam isakan ku
“ ya wis masuk dulu yuk, nanti ibu bikinkan bakwan kesukaan mu”
Aku kun masuk mengikutikata ibu ku. Dan meliahat ada sebuah gaun yang sangat indah bahkan lebih indah dari yang ingin ku belikan untuk ibu ku.
Yang di atasnya terdapat sepucuk surat

Ternyata surat itu dari bu sumarti.
Assalamualaikum wr wb
Kepada ibunda bimo yang saya hormati
Saya salut kepada ibu yang pastinya ringan tangan seperti nak bimo, dalam surat ini saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena anak ibu telah menolong nyawa saya tempo hari, yang telah membawa saya kerumah sakit.sebelumnya saya tidak mengenal anak ibu, tapi akhirnya saya mencari siapa namanya dan di mana alamatnya karena saya ingin memberikan hadiah tanda terima kasih, dan akhirnya ku temukan saat ku bertanya ke bidang administrasi rumah sakit, dan ternyata anak ibu meninggalkan namanya dan alamatnya di madiun.
Saya ingin memberikan tanda terima kasih gaun muslimah ini ke pada ibunya yang sangat iya cintai, sampai-sampai iya mengigaukan permohonan maafnya ke pada ibunda karena tidak dapat meberikan gaun yang indah saat menjaga ku di rumah sakit hingga keluarga ku datang.
Dan mudah-mudahan ibu menyukai gaun tersebut, salam ya bu,buat anaknya yang sangat mencitai ibundanya

Sumarti

“engkau sudah baca suratnya bimo?”
“surat itu lah yang ibu bicarakan tadi”
“nak, tanpa gaun itu pun ibu sudah senang dan bangga melihat anak ibu yang tumbuh dengan selalu mengelola hatinya dengan perbuatan baik. Engkau lebih indah dari segala gaun di dunia ini bagiku,nak”

Ibu memeluk ku dengan pelukan yang hangatnya telah lama ku rindukan.

depok 18 sep.2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar