SURAT UNTUK CALON MENANTU
Duhai gadis, yang baru ku kenal.
Tahukah kau, dia putraku, lahir dari rahim suciku, kupertaruhkan hidupku untuk memilikinya, anak kesayanganku yang sepanjang hidupnya ku besarkan dengan segenap rasa cintaku..
Tangan renta ini yang mengangkat tubuh mungilnya, menyuapinya, menyeka air matanya, dan memeluknya dalam dekapanku..
Duhai gadis, tahukah kau betapa besar rasa cintaku padanya? Bahkan aku tak mampu membayangkan bila ada yang merebutnya dari dekapku..
Tahukah kau gadis? Betapa bangga ku rasakan ketika dia mulai beranjak dewasa? Menatapnya tumbuh menjadi laki2 tegap dan tampan.. Seulas senyumnya mengingatkanku pada senyuman ayahnya yang sgt ku cinta..
Betapa hati ini terus diliputi rasa bangga dan buncahan cinta padanya.. Kebangganku.. Putraku..
Berbagai prestasi dia ukir dan memahatnya bangga tak terperi dalam lubang rasaku.. Dan ku slalu merasa puas menyebutnya putraku..
Tak sedikitpun dia pernah mengecewakanku.. Tak pernah..
Gadis, tahukah kau, betapa haru hatiku, ketika ku melihat perubahannya, mencoba mengenal Diennya lebih dalam dari yang kami ajarkan padanya.. Dia menjadi laki2 sejati, laki2 yang dirindukan syurga.. Aku semakin sayang padanya. Putraku, kini yang malah mengajarkanku banyak hal.. Mendekatkanku padaNya, pada Rabbku yang slama ini ku kenal dengan sederhana karena kebodohanku. Tapi ku tak malu, namun sebaliknya, aku smakin bangga padanya.. Putraku, cahayaku..
Namun, smua rasa itu berubah menjadi takut, cemas dan khawatir..
Ketika dia menyampaikan padaku keinginannya. Dia ingin menyempurnakan agamanya..
Yah.. Dia ingin membangun rumah tangganya sendiri..
Dan, dia telah memilih, kaulah gadis beruntung itu..
Gadis, tahukah kau? Betapa cemburuku padamu? Yah, aku sangat takut kehilangan putra kesayanganku. Takut kau merebut smua perhatiannya dariku. Takut keberadaanmu, memalingkannya dariku.. Kau akan merebutnya, dan aku cemburu..
Namun, kembali ku sadari, putraku tak akan memilih wanita sembarang.. Ku yakin kau punya kelebihan yang membuatnya memilihmu, dan ku mulai menata hatiku..
Duhai gadis pilihan putraku..
Ku harap kau memiliki tangan yang lbh lembut dariku, karena ku tak mau kau melukai putraku..
Ku harap kau mpunyai senyum yg lebih sejuk dariku.. Krena kelak, dia akan dtg padamu dalam tiap galaunya, u mencari ketenangan..
Ku harap, kau memiliki pelukan yg lbh hangat dariku.. Krn ku ingin hatinya selalu damai dlm dekapanmu..
Ku harap, kau mempunyai tutur kata yang seindah embun, karen ku tak ingin dia mendengar kata2 kasar dalam hidupnya..
Duhai gadis pilihan putraku.. Jadilah anakku.. Agar tak pernah ku mrasa kehilangan putraku karene kehadiranmu..
Jadilah sahabatku.. Agar kau dapat mencurahkannya rasamu padaku kelak..
Jadilah rekanku.. Agar bersama2 qt membahagiakan laki2 yang sama2 qt cintai..
Untukmu gadis pilihan putraku.. Selamat datang di istana kami.. Penuhilah dengan cinta dan kasih.. Semoga kau bahagia mjadi bagian dari kami..
Padamu gadis pilihan putraku.. Akupun akan mencintaimu...
Jumat, 20 Januari 2012
Kamis, 05 Januari 2012
Surat Cinta Untuk Calon suamiku
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…
Dear calon suamiku…
Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?
Apa kabarnya imanmu hari ini? Sudahkah harimu ini diawali dengan syukur karena dapat menatap kembali fananya hidup ini? Sudahkah air wudhu menyegarkan kembali ingatanu atas amanah yang saat ini tengah kau genggam?
Wahai Calon Suamiku…
Tahukah engkau betapa Allah sangat mencintaiku dengan dahsyatnya? Disini aku ditempa untuk menjadi dewasa, agar aku lebih bijak menyikapi sebuah kehidupan dan siap mendampingimu kelak. Meskipun kadang keluh dan putus asa menyergapi, namun kini kurasakan diri ini lebih baik.
Kadang aku bertanya-tanya, kenapa Allah selalu mengujiku tepat dihatiku. Bagian terapuh diriku, namun aku tahu jawabannya. Allah tahu dimana tempat yang paling tepat agar aku senantiasa kembali mengingat-Nya kembali mencintai-Nya. Ujian demi ujian Insya Allah membuatku menjadi lebih tangguh, sehingga saat kelak kita bertemu, kau bangga telah memiliki aku dihatimu, menemani harimu.
Calon suamiku…
Entah dimana dirimu sekarang. Tapi aku yakin Allah pun mencintaimu sebagaimana Dia mencintaiku. Aku yakin Dia kini tengah melatihmu menjadi mujahid yang tangguh, hingga akupun bangga memilikimu kelak.
Apa yang kuharapkan darimu adalah kesalihan. Semoga sama halnya dengan dirimu. Karena apabila kecantikan yang kau harapkan dariku, hanya kesia-siaan yang dapati.
Aku masih haus akan ilmu. Namun berbekal ilmu yang ada saat ini, aku berharap dapat menjadi isteri yang mendapat keridhaan Allah dan dirimu, suamiku.
Wahai calon suamiku…
Saat aku masih menjadi asuhan ayah dan bundaku, tak lain doaku agar menjadi anak yang solehah, agar kelak dapat menjadi tabungan keduanya di akhirat. Namun nanti, setelah menjadi isterimu, aku berharap menjadi pendamping yang solehah agar kelak disyurga cukup aku yang menjadi bidadarimu, mendampingi dirimu yang soleh.
Aku ini pencemburu berat. Tapi kalau Allah dan Rasulullah lebih kau cintai daripada aku, aku rela. Aku harap begitu pula dirimu.
Pernah suatu ketika aku membaca sebuah kisah; "Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Dia memberiku kaktus berduri. Aku minta kepada Allah hewan mungil nan cantik, Dia beri aku ulat berbulu. Aku sempat kecewa dan protes. Betapa tidak adilnya ini.
Namun kemudian kaktus itu berbunga, sangat indah sekali. Dan ulatpun tumbuh dan beruba menjadi kupu-kupu yang teramat cantik. Itulah jalan Allah, indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita inginkan, tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan."
Aku yakin kaulah yang kubutuhkan, meski bukan seperti yang aku harapkan.
Calon suamiku yang di rahmati Allah…
Apabila hanya sebuah gubuk menjadi perahu pernikahan kita, takkan kunamai dengan gubuk derita. Karena itulah markas dakwah kita, dan akan menjadi indah ketika kita hiasi dengan cinta dan kasih.
Ketika kelak telah lahir generasi penerus dakwah islam dari pernikahan kita, Bantu aku untuk bersama mendidiknya dengan harta yang halal, dengan ilmu yang bermanfaat, terutama dengan menanamkan pada diri mereka ketaatan kepada Allah SWT.
Bunga akan indah pada waktunya. Yaitu ketika bermekaran menghiasi taman. Maka kini tengah kupersiapkan diri ini sebaik-baiknya, bersiap menyambut kehadiranmu dalam kehidupanku.
Kini aku sedang belajar menjadi yang terbaik. Meski bukan umat yang terbaik, tapi setidaknya menjadi yang terbaik disisimu kelak.
Calon suamiku…
Inilah sekilas harapan yang kuukirkan dalam rangkaian kata. Seperti kata orang, tidak semua yang dirasakan dapat diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang kini kuhadapi. Kelak saat kita tengah bersama, maka disitulah kau akan memahami diriku, sama halnya dengan diriku yang akan belajar memahamimu.
Wassalamu'alaikum Warahamtullahi Wabarakatuh…
(milis sekolah kehidupan)
Langganan:
Postingan (Atom)