Laman

Sabtu, 21 Mei 2011

Surat Cinta Dari Allah

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara padaKU.. 
Walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau bersyukur kepadaKU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin.. 

Tapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk... 

Di suatu tempat engkau duduk di sebuah kursi selama 15 menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seseorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.. 

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.. 



Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU,


Sa’ad bin Abi Waqqash ra.



Allah SWT berfirman yang artinya, “Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan menderita kelemahan diatas kelemahan dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada ibu bapakmu! Kepada-Ku tempat kembali. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 14-15)

Ayat-ayat yang mulia ini mempunyai latar belakang kisah tersendiri dan mengejutkan; menyebabkan satu golongan diantara dua golongan yang bertentangan jatuh terbanting, berhubungan dengan pribadi seorang pemuda lemah lembut. Akhirnya kemenangan berada di pihak yang baik dan beriman. 

Tokoh kisah ini ialah seorang pemuda Makkah, keturunan terhormat, dan dari ibu bapak yang mulia. Nama pemuda itu Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu. 

     Tatkala cahaya kenabian terpancar di kota Makkah, Sa’ad masih muda belia, penuh perasaan belas kasih, banyak bakti kepada ibu bapak, dan sangat mencintai ibunya. Walaupun Sa’ad baru menjelang usia 17 tahun, namun dia telah memiliki kematangan berpikir dan kedewasaan bertindak. Dia tidak tertarik kepada aneka macam permainan yang menjadi kegemaran pemuda-pemuda sebayanya. Bahkan dia mengarahkan perhatiannya untuk bekerja membuat panah, memperbaiki busur, dan berlatih memanah, seolah-olah dia sedang menyiapkan diri untuk suatu pekerjaan besar. Dia juga tidak puas dengan kepercayaan/agama sesat yang dianut bangsanya, serta kerusakan masyarakat, seolah-olah dia sedang menunggu uluran tangan yang kokoh kuat, penuh kasih sayang, untuk merubah keadaan gelap gulita menjadi terang benderang.

Jumat, 20 Mei 2011

Khalid Bin Walid

ORANG seperti dia, tidak dapat tanpa diketahui dibiarkan begitu saja. Dia harus diincar sebagai calon pemimpin Islam.

Jika dia menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dalam peperangan melawan orang-orang kafir, kita harus mengangkatnya kedalam golongan pemimpin? demikian keterangan Nabi ketika berbicara tentang Khalid sebelum calon pahlawan ini masuk Islam.

Khalid dilahirkan kira-kira 17 tahun sebelum masa pembangunan Islam. Dia anggota suku Banu Makhzum, suatu cabang dari suku Quraisy. Ayahnya bernama Walid dan ibunya Lababah. Khalid termasuk diantara keluarga Nabi yang sangat dekat. Maimunah, bibi dari Khalid, adalah isteri Nabi. Dengan Umar sendiri pun Khalid ada hubungan keluarga, yakni saudara sepupunya. Suatu hari pada masa kanak-kanaknya kedua saudara sepupu ini main adu gulat. Khalid dapat mematahkan kaki Umar. Untunglah dengan melalui suatu perawatan kaki Umar dapat diluruskan kembali dengan baik.

Ayah Khalid yang bernama Walid, adalah salah seorang pemimpin yang paling berkuasa diantara orang-orang Quraisy. Dia sangat kaya. Dia menghormati Ka’bah dengan perasaan yang sangat mendalam. Sekali dua tahun dialah yang menyediakan kain penutup Ka?bah. Pada masa ibadah Haji dia memberi makan dengan cuma-cuma bagi semua orang yang datang berkumpul di Mina.

Senin, 16 Mei 2011

Ketika " Futur" Datang Menggoda, Gunakan "peluntur futur" !

anda merasa shalat anda tak lagi terasa menghapus gelisah?

atau tilawah tak lagi terasa indah?

atau anda mengalami kesulitan melangkah ketika ada panggilan dakwah?


WASPADALAH!!!

mungkin sekarang Anda tengah mengalami gejala futur** yang akut. Bila gejala ini tak segera ditangani, futur dapat menyebabkan hati mudah terserang putus asa,dengki,virus merah jambu, bahkan kekufuran!


jadi harus gimana dong???

oh..jangan khawatir..

di sini kita akan membahas tips2 untuk mengatasi gejala kefuturan


1.Kekuatan ruhiyah / spiritualitas

Kekuatan ruhiyah seseorang layaknya seekor burung yang sedang melintasi hutan. Jika burung itu terbang tinggi, ia bisa melihat dengan jelas hutan yang tengah ia lintasi,namun jika ia terbang rendah ia akan mudah tersangkut dan terhambat oleh ranting-ranting dan dahan pohon. Ketika kekuatan ruhiyah kita tinggi,kita akan lebih jernih dan jelas menatap setiap masalah dan kita tak akan terjebak dan terseok oleh masalah2 yang sebenarnya sepele.

Selain itu burung yang terbang tinggi akan semakin jelas menatap akhir dari perjalanannya sehingga ia tak akan mudah terbelokkan. Begitu juga kekuatan ruhiyah kita,ketika ia tinggi kita akan jelas melihat surga atau neraka di ujung perjalanan hidup kita. Kita akan semangat melakukan kebajikan karena kita merasa surga begitu dekat,selain itu kita jga akan sangat berusaha menghindari maksiat karena kita tahu betul hal itu akan membuat neraka mendekat.

Sabtu, 14 Mei 2011

ZUBAIR BIN AWWAM

Setiap kali nama Thalhah disebut, nama Zubair juga disebut. Dan setiap kali disebut nama Zubair, nama Thalhah pun pasti disebut.

Sewaktu Rasulullah SAW mempersaudarakan para sahabatnya di Makkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi SAW bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”
Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zaubair, juga bibi Rasulullah.
Thalhah dan Zubair mempunyai banyak kesamaan dalam menjalani roda kehidupan. Masa remaja, kekayaan, kedermawanan, keteguhan dalam beragama dan keberanian mereka hampir sama. Keduanya termasuk orang-orang yang masuk Islam di masa-masa awal, dan termasuk sepuluh orang yang dikabarkan oleh Rasul masuk surga, termasuk enam orang yang diamanahi Khalifah Umar untuk memilih khalifah pengganti. Bahkan, hingga saat kematian keduanya sama persis.

Rabu, 11 Mei 2011

HIDUP BUKANLAH VCD PLAYER


Cerita ini adalah “kisah nyata” yang pernah terjadi di
Surabaya.
Seorang pria membawa pulang truk baru
kebanggaannya, kemudian ia meninggalkan truk tersebut
sejenak untuk melakukan kegiatan lain.Anak lelakinya yang
berumur 3 tahun sangat gembira melihat ada truk baru, ia
memukul-mukulkan palu ke truk baru tersebut. Akibatnya truk
baru tersebut penyok dan catnya tergores. Pria tersebut berlari
menghampiri anaknya dan memukulnya, memukul tangan
anaknya dengan palu sebagai hukuman. Setelah sang ayah
tenang kembali, dia segera membawa anaknya ke rumah sakit.
Walaupun dokter telah mencoba segala usaha untuk
menyelamatkan jari- jari anak yang hancur tersebut, tetapi ia
tetap gagal.

Kamis, 05 Mei 2011

Noda

Saat saya bepergian dari Jakarta menuju sebuah desa di Lampung di tempat kakek saya tinggal, saya tiba pada pagi hari. Di rumah, kakek menyambut saya dengan hangat. Karena saya tiba pagi hari, kakek pun bertanya, “Sholat subuh di mana tadi?”

“Nggak sholat kek. Gak sempat. Waktunya habis di dalam mobil.” Jawab saya agak malu.

“Lho, kan bisa sholat di mobil.”





“Mmm… malas kek. Ngantuk. Sekali-kali lah.” Saya berharap kakek bisa mengerti. Tapi tetap saja saya tangkap kesan heran di wajah kakek. Mungkin karena beliau tahu saya rajin beribadah, tapi untuk urusan perjalanan, saya dengan ringan meninggalkannya.

Setelah diam sesaat, kakek berkata. “Nanti sore kalau gak capek, kita bisa jalan-jalan ke kebun.”